Memories

Jumat, 25 Desember 2015

Puisi Kembalikan Biru Langitku

Melawan Asap
Oleh : Rara ayu

Tak setetes pun air turun dari langit sumatra. Setiap detik seakan siap menukik netra; menuai era. Tarian asap itu menghias pandangan retina. Menangkap nanar serpihan asa yang berserak tanpa makna. Pada selembar sajak haru, butiran partikel debu menguliti paru. Memintal tetes peluh menjadi keluh. Berharap rasa sesak segera meluruh. Rintihan sedih mengaduh kelu, hingga kalbu terasa bisu.

Remah gemulai kabut telah terbuai pendar cakrawala di ujung persimpangan waktu. Meretas segala batas pijakan kaki, untuk meneruskan napas kehidupan. Perih membuncah tiada henti. Lelah kian menggurat pasti. Namun bergerak untuk perubahan ialah suatu keharusan. Melawan kesakitan yang terus terabaikan. Ketika mimpi-mimpi ribuan jiwa menggantung pada gumpalan awan. Kemudian ia akan turun bersama hujan yang entah kapan.

Wahai Tuan berdasi merah, kapankah kau singgah? Sekadar menginjak gubuk rakyatmu dengan sumpah serapah. Lalu biarkan anak-anak bumi mati berkalang tanah. Berlumur darah; basah. Ataukah kau terlalu sibuk melengkapi obituari kebohongan janji pada jasad-jasad kami di hadapan Tuhan? Kembalikan biru langit Kalimantan yang kini enggan berkarib. Kedamaian telah raib. Dihunus kekuasaan selayak belati berkarat. Ia meranggas pertiwi; kian sekarat. Di bawah kepungan awan hitam aksara negeriku tersayat-sayat. Asap Riau hantarkan suara tangis rakyat. Tuan, apakah kau tuli?

#SaveRiau
#SaveKalimantan
#SaveDaerahBerasap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar