Dengarlah
Oleh: Rara ayu
Malam terlahir begitu senyap
Risalah hidup menuntun tanpa ucap
Nuraniku mulai meluap
Kumohon dengarlah
Bu ...
Usiamu tak lagi muda
Sementara badai ini belum jua reda
Menerpa surga kita tanpa jeda
Tuhan menciptakan pegal di punggungmu
Linu pada sendi-sendimu
Lalu Ia menyembuhkan dengan ukiran senyum anak-anakmu
Kau dengar aku kan bu?
Deretan kata ini adalah sebuah ungkapan malu
Sebab aku belum mampu menjamah bahagiamu
Atas nama Tuhan, kebahagiaanmu bukan lagi sebatas tujuan
Tapi lebih kepada keharusan di atas kewajiban
Bu ...
Aksaraku tak 'kan pernah habis 'tuk memuisikanmu
Sabdamu adalah doa
Petuahmu adalah cinta
Lupakan tentang diksi dalam sajakku
Seindah apa pun mereka tak lebih bernilai dari tetes peluhmu
Lalu seharusnya kau bertanya
Mampukah aku membaca puisi ini tanpa menangis di sudut kakimu




Tidak ada komentar:
Posting Komentar