Memories

Sabtu, 02 Januari 2016

Puisi Ibu

Dengarlah
Oleh: Rara ayu

Malam terlahir begitu senyap
Risalah hidup menuntun tanpa ucap
Nuraniku mulai meluap
Kumohon dengarlah

Bu ...
Usiamu tak lagi muda
Sementara badai ini belum jua reda
Menerpa surga kita tanpa jeda

Tuhan menciptakan pegal di punggungmu
Linu pada sendi-sendimu
Lalu Ia menyembuhkan dengan ukiran senyum anak-anakmu
Kau dengar aku kan bu?

Deretan kata ini adalah sebuah ungkapan malu
Sebab aku belum mampu menjamah bahagiamu
Atas nama Tuhan, kebahagiaanmu bukan lagi sebatas tujuan
Tapi lebih kepada keharusan di atas kewajiban

Bu ...
Aksaraku tak 'kan pernah habis 'tuk memuisikanmu
Sabdamu adalah doa
Petuahmu adalah cinta

Lupakan tentang diksi dalam sajakku
Seindah apa pun mereka tak lebih bernilai dari tetes peluhmu
Lalu seharusnya kau bertanya
Mampukah aku membaca puisi ini tanpa menangis di sudut kakimu

Jumat, 25 Desember 2015

Matematika Kehidupan

Ini adalah karya dari ibu Dr.Ir.Hj. Giwo Rubiyanto Wiyogo. M. Pd
MATEMATIKA KEHIDUPAN. 😛

Jika :A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

Sama Dengan :1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26

Maka :H+A+R+D+W+O+R+K/ Kerja Keras : 8+1+18+4+23+15+18+11 = 98%
K+N+O+W+L+E+D+G+E / Pengetahuan :11+14+15+23+12+5+4+7+5 = 96%
L+O+V+E / Cinta :12+15+22+5 = 54%
L+U+C+K / Keberuntungan :12+21+3+11 = 47%

Tidak ada yang membuatnya jadi 100%.
Lalu apa yang membuatnya 100% ..???

Apakah money ..?

NO..!!!M+O+N+E+Y =13+15+14+5+25 = 72%

Leadership ..? NO ..!!!L+E+A+D+E+R+S+H+I+P =12+5+1+4+5+18+19+8+9+16 = 97%

Ternyata yang bisa membuatnya menjadi 100% adalah

"ATTITUDE" / Sikap:
A+T+T+I+T+U+D+E=1+20+20+9+20+21+4+5 = 100%

Maka ATTITUDE / SIKAP BAIK kita dalam menjalani bv dan pekerjaan yang akan membuat hidup kita menjadi 100% sukses ...!!

Kebetulan atau tidak tapi itulah matematikanya.
Jangan dibawa serius.

Salam Sukses

Pembukuan Kelas Menulis Puisi KBM III

Peramu Sunyi
Karya : Rara ayu

Tetes embun memenuh setiap sudut semesta, menjelma cahaya manakala mimpi berubah gulita. Menerbangkan sejumput asa, menguntai mesra desah napas yang terpenjara.

Angin mengembus di sela rindang cemara. Sederet aksara menuntun tatih lemahku menggapai titian atma. Aku mencari kekata dalam dangau sastra tuk menggubah sajak amerta. Bait kurangkup, namun tak kutemukan jua kata tuk menyuarakan cinta.

Aku hanyalah reranting cemara di selasar pagi yang berpijak pada waktu yang entah, jauh tak terjamah. Membasuh luka tiada bersudah. Melelapkan harap pada akar-akar kesunyiannya. Seiring mentari pulas di peraduan. Lalu menambatkan dedoa di negeri yang kunamakan sepi.

__________________________________

Kidung Perindu
Karya : Rara ayu

Sesak membuncah; rebah. Lelah mengurai simpul-simpul tabah pada kekata yang kerap merapal pisah. Aku bertekuk pasrah ketika rindu terasa demikian getas. Mengalirkan kenangan di sela gerimis yang membias.

Aku menyerah pada parasmu; kian memapas, menyerupa klausa yang bertapa di antara tumpukan frasa. Resah berkubang dalam diam, bertalu pada masa silam. Serumpun imaji berjibaku laksana raga dihubung hasta. Dimana aku dan kau berprosa.

Sajak bersenandung menyekap rindu; tanpa dengung, meninggalkan nada-nada murung. Memagut runtun bait-bait sepi yang terlemahkan oleh kidung. Ribuan rapal doa beraksara. Berujung di tingkap rapuh nadir, hingga kehidupan para penyembah dogma berakhir.

Puisi Sahabat

Juara 2 Event Puisi Korekgraphy

Kisah Secarik Kertas
Karya : Rara ayu

Secarik kertas menunggu pena dengan wajah gelisah
Mengurai sajak, berkisah tentang segala ceria dan kesah
Kala kita berlari menebas waktu; membaringkan harapan
Kala kita menapaki pematang; meninggalkan jejak kenangan

Sahabat ...
Dingin telah merambat
Resahku bergulat
Meringkuk dalam ruang waktu yang kiat pekat

Hitam dan putih tak pernah beriringan
Malam dan siang tak pernah berpapasan
Layang-layang melayang ketika langit biru menyapa awan
Kau dan aku telah berjanji untuk terbang bebas mengejar mimpi di ketinggian

Tiada yang lebih bahagia, ketika kau berkabar bahwa rindu selalu terpelihara dalam do'a
Tiada yang lebih indah, selain tersenyum untuk setitik kenangan kita di atas secarik kertas

Puisi Nestapa Daun

Terasing
Karya : Rara ayu

Daun-daun menguning, gugur diterpa angin yang memapah
Melarung bimbang, jatuh dipelukan tanah
Rebah dalam ejaan rimbunan gelisah, bersujud menunaikan resah
Lalu berserak diinjak-injak; menyampah

Melayang daun di ranting patah,  terembus senandung lirih
Meringkih dibentur nestapa, menjerit terbentuk perih
Kilas bayang lalu tertegun membisu, campakkan raga membiru
Samar memoar tak lekang berseru

Aku hanya dedaun kering yang terasing, di mana pohon tak lagi mau memungutku
Meranggas, jatuh terkulai dipangku bumi dan rapuh
Mengusap wajah bumi, melukisi kanvas hidup dengan warna neraka
Anak-anak angin bercengkerama, merimbun di sudut telaga; berbuah luka

Haruskah aku berdamai dengan gulita, kala angin berbisik di hutan cemara
Dimana hidupku gulana, tiada satu pun lentera
Senja nampak muram bagai hatiku yang remuk redam
Berharap pelangi hiasi hari, lalu pergi tinggalkan asa yang suram

__________________________________

Bejana Rindu
Karya : Rara ayu

Aku menulis sejuta puisi tentangmu, dibingkai nuansa indahnya hutan cemara. Saat kita mengabadikan waktu, diselimuti kabut warna kelabu Jantungku berdebar, bak dawai gitar kehabisan nada. Seperti irama yang lantunkan rindu.

Cintaku menghampar laksana dedaunan di hutan cemara nan luas. Indah laksana senja di langit yang tiada batas. Di selendang temaram, jingga langit sedukan kalbu, alunan lagu mendayu pilu. Tahukah kau jika aku merindu?

Gemerisik daun menyapaku di antara musim yang tak menentu. Ilalang membisu, menatap kosong langit yang tersaput mendung. Liuk kamboja menadah embun yang bergelayut di basah daun. Nestapa riuh mengalun, mendekap sepi di gigil rindu.

Bulir-bulir air mata menetes dari ceruk mataku, agar kau lihat betapa sepi mampu membunuhku. Getas ranting kenangan menjelma daun kering, dibawa angin pada sebuah subuh yang hening. Membebat luka nganga di suwung semesta. Bejana rindu telah retak, kini kita coba menepis jarak, didera waktu yang terus berdetak.

Puisi Aku, Kau, dan Tuhan

Judul : Di Selubung Malam
Karya : Rara ayu

Genta waktu berdenting di penghujung hari. Menguntai perih, menjalin syair cinta yang kian lirih. Kubiarkan denyut nadi berjatuhan di sekujur rindu. Kelebat bayang sedemikian abadi dalam ingatanku. Di lelangit harap, kutatap juntaian takdir seliku jalan-jalan persimpangan.

Kau adalah sajak yang dituliskan Tuhan dalam lembar kehidupan. Kita mengeja sederet aksara, melangitkan doa. Hanya ada aku, kau, dan Tuhan; di selubung malam. Merangkai sebait doa menjadi selimut yang kelak menjagamu dari gigil rindu yang merinai melintasi batas-batas waktu.

Di setiap peluh lelah aku berguru, bahwa percuma aku mengeluh tentang jarak. Malam kian pekat, kau pun tak kunjung tiba. Pada sujud terakhir, derai tangis menelagakan sajadahku. Ya Rahman, cinta-Mu muaraku. Enyahlah segala gundah, raiblah seluruh duka nestapa.

__________________________________

Judul : Doa Tak Terbayar
Karya : Rara ayu

Di hadapanmu aku malu-malu
Di hadapan-Nya aku menangis memintamu
Agar suatu saat aku dapat berada satu shaf di belakangmu
Duduk bersimpuh dan menjadi bagian dari doa-doamu

Ketika hari mulai senja
Semua masih terlihat semu
Ketika tubuh semakin renta
Bara usaha berubah menjadi ragu

Haruskah semua dupa kubakar?
Ataukah semua sesaji kulempar
Agar Tuhan berkenan mendengar
Kala jiwaku mulai terkapar

Di bawah guguran awan hitam
Di remang cahaya malam
Airmata berubah hujan; berjatuhan
Aku mengadu tentangmu--kita, di hadapan Tuhan

Puisi Aku, Kau, dan Hujan

Judul : Katakan Pada Hujan
Karya : Rara ayu

Katakan pada hujan  yang lahir dari gumpalan rasa terpendam, yang mengabarkan tentang pergumulan musim dan alam. ketika segurat wajah muram melanggamkan nyanyian luka bersama serenade kenangan, katakan ...  bahwa aku menitip puisi malam.

Katakan pada hujan  yang selalu hadir dalam pertemuan kita, ketika butir-butirnya luruh di reranting mahoni tua; merayakan keajaiban puisi cinta kita. Hingga perpisahan mengurai tangisan, Katakan ... bahwa hanya ada aku, kau dan hujan; menyulam keyakinan.

Ini tentangmu dan hujan, maka tak usah risau ketika riuhnya menempiaskan namamu di antara kubangan luka. Di pepucuk kerinduan aku menghikmati sebuah penantian. Sunyi berkelindan di langit-langit ingatan,  menjerat kenangan bersama dedoa yang berdiam di sudut angan.

_________________________________

Judul : Hujan Di Bulan Agustus
Karya : Rara ayu

Mendung di langit agustus
Aroma basah terendus
Sekejap hujan datang menghunus
Rinduku kian pupus

Aku menjumpai pagi berhujan
Kala kita berbagi secangkir cappucino pada meja perjamuan
Menyesap hangat yang lahir dari sekelumit ilusi
Mencecap nikmat ilahi; semesta mengeja puisi

Hujan bak salam pamit pada perpisahan
Secacar rindu menoreh kenangan antara aku, kau dan hujan
Lalu rinduku tak lagi pernah tersampaikan
Musabab rinduku terbiasa berkubang sendirian

Kidung lirih tertinggal di basah dedaunan
Menuntun kembara menuju pemberhentian
Pekik hening melarik kesedihan
Dalam parade sunyi,  menggiring kepergian musim hujan